JAKARTA, PRIMASIDAGROSID. Untuk hasil panen optimal, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan para petani ketika menanam padi hibrida MAPAN P05. Antara lain, lahan sawah yang akan ditanami, diolah secara sempurna, bisa dicangkul atau ditrakror, kemudian diratakan. Dua hari sebelum tanam, sebaiknya lahan diberi pupuk dasar, yaitu campuran pupuk organik dan SP-36. Kebutuhan pupuk organiknya antara 700 kg sampai dengan 2 ton per hektare. Sedangkan pupuk SP-36 cukup 200 kg per hektare. Tambahkan juga racun keong METADEX sebanyak 2,5—3 kg per hektare. Kemudian, atur jarak tanam sesuai musim dengan sistem jajar legowo. Pada musim kemarau, jarak atartanaman 25 cm x 25 cm, dan jarak antarbarisnya 50 cm. Pada musim hujan, jarak antartanaman diperluas menjadi 30 cm x 30 cm, dan jarak antarbarisnya 60 cm. Namun, bila memilih sistem tegel, jarak tanamnya minimal 30 cm x 30 cm. Bibit padi hibrida MAPAN P05 yang akan ditanam sudah berumur 18 hari setelah semai, saat bibit berdaun 4 sampai dengan 6 helai. Tiap lubang tanam cukup ditanami 1 sampai dengan 2 bibit. Dan perlu diperhatikan, penanaman jangan terlalu dalam, cukup 1—2 cm, atau sedalam 1 ruas jari telunjuk. Tujuannya, agar bibit bisa menghasilkan anakan yang maksimal. Selama budidaya, padi hibrida MAPAN P05 cukup diberi pupuk susulan 2—3 kali, yaitu pada usia 7 hari setelah tanam, 25—30 hari setelah tanam dan jika diperlukan pada 40—45 hari setelah tanam. Saat umur 7 hari setelah tanam, per hektare diberi 50 kg Urea, 100 kg NPK, dan 100 kg KCL atau ZK Plus. Pada umur 30 hari setelah tanam, per hektare diberi 50 kg Urea, 100 kg NPK, dan 100 kg KCL atau ZK Plus. Sedangkan pada umur 40 hari setelah tanam, diberikan 200 kg NPK. Sebagai catatan, khusus pada musim hujan, penggunaan Urea mesti dikurangi 25%. Perhatikan pula, pada saat pemupukan sampai hari ke-4 setelah pemupukan, kondisi lahan sebaiknya macak-macak, agar pupuk terserap optimal. Selain pemupukan, yang mesti diperhatikan adalah pengairan. Pada umur 1 hari sampai dengan 10 hari setelah tanam, ketinggian air pada permukaan sawah dijaga sekitar 5 cm. Hal ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan bibit, sekaligus menghabat tumbuh gulma atau tumput. Secara rutin, lakukan juga penggenangan dan pengeringan macak-macak sampai masa pembungaan. Sejak masa pembungaan hingga 14 hari sebelum panen, upayakan lahan terus diairi setinggi kurang lebih 5 cm. Penggenangan air kemudian dikurangi pada 2 minggu sebelum panen, sehingga pada saat panen nanti, lahan sudah dalam kondisi kering. Pengendalian hama maupun penyakit, juga tak kalah penting untuk dilakukan. Oleh karena itu, sebaiknya para petani melakukan monitoring atau pemantauan di sawah secara berkala. Ketika memutuskan untuk menggunakan pestisida, lakukan secara tepat guna dan efisien, agar ramah lingkungan. (admin/sumber: ihorti)
