JAKARTA, PRIMASIDAGROSID. “Siapapun bisa menjadi petani, dan sukses. Tak ada persyaratan khusus seperti halnya pegawai kantoran”. Demikian diutarakan H. Lilit Saefudin, juragan tomat dari Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Modal utamanya, imbuh dia, ada kemauan, tekun, ulet, pantang menyerah, terus belajar, dan teliti dalam bertani. “Saya pun mengetahui ilmu bertani secara otodidak. Belajar dari petani lain dan para produsen sarana produksi,” ungapnya. Lilit membuktikan, selain bertani, ia pun mampu menjadi pedagang besar yang eksis menggeluti bisnis tomat. “Latar pendidikan saya hanya tamatan SMEA, setingkat SMA,” ujarnya. Kini, ayah dua anak itu, sudah kaya raya dari agribisnis sayuran, khususnya tomat. Tengok saja, “Bila di wilayah Pangalengan sedang panen raya tomat, per hari saya menyerap 60 ton. Kemudian saya kirim ke berbagai pasar di Jawa dan luar Jawa,” ungkapnya. Namun, “Bila pasokan dari petani seret, minimal saya kirim ke pasar 20 ton per hari,” imbuhnya. Saat iHorti berkunjung ke Pangalengan (awal Agustus), harga tomat di tigkat petani lagi tinggi, Rp10.000 per kg. Artinya, untuk membeli 20—60 ton tomat saja, per hari, ia harus mengeluarkan modal Rp200 juta—Rp600 juta. “Biaya operasional per hari rata-rata Rp800 per kg,” ucapnya. Dengan kata lain, untuk mengurus volume sebanyak itu, saban hari Lilit mesti menyiapkan tambahan biaya Rp16 juta—Rp48 juta. Untuk mengelola usahanya, Lilit dibantu 150 karyawan, sudah termasuk mereka yang bekerja di gudang dan ladang. Serta ditopang 15 armada truk dan pick up. Pasar Alternatif Dalam mengamankan kebutuhan akan tomat, Lilit menempuh beberapa cara. Selain membina 20 petani khusus tomat, ia membeli dari petani sekitar Pangalengan, hingga jauh dari Medan, Sumatera Utara. “Awal Agustus, saya juga beli 5 truk dari Medan,” akunya. Dari pengalaman Lilit selama ini, harga tomat di tiap daerah sentra berbeda-beda. Contohnya pada awal Agustus, ketika harga di petani Pangalengan Rp10.000 per kg, di Medan hanya Rp5.200—Rp5.300 per kg. “Setelah dikurangi biaya transportasi, sampai Pangalengan jatuhnya Rp8.000 per kg,” ujarnya. Celah itu pula lah yang dimanfaatkan Lilit untuk mengamankan pasokan sekaligus menjaring keuntungan. Untuk memasarkan puluhan ton tomat, per hari, Lilit mengaku tidak mengantungkan pada satu pasar. “Saya memiliki beberapa alternatif pasar. Saya tidak ada ikatan dengan orang pasar (pemilik lapak di pasar induk). Mereka semua hanya relasi bisnis. Toh, hingga sekarang saya tidak pernah menggunakan modal dari mereka,” tandasnya. “Bila tawaran harga dari satu pasar tidak sesuai yang diharapkan, saya kirim ke pasar lain yang lebih baik,” imbuhnya. Beberapa pasar yang digarap Lilit yaitu Pasar Induk Caringin-Bandung, Pasar Induk Cibitung-Bekasi, Pasar Induk Kramatjati-Jakarta, perusahaan pemasok sayuran ke pasar modern di Bandung, pabrik saus Solo, dan Surabaya. Di luar Jawa, selain Medan, Lilit mengirim tomat ke Batam, dan Pontianak-Kalimantan Barat. “Secara umum, harga di Batam dan Pontianak, lebih baik dibandingkan pasar di Jawa,” ucap Lilit. Dari Buruh Menjadi Tuan Lilit mengaku tertarik untuk menggeluti usaha tani secara serius pada 1992. “Waktu itu, saya masih bekerja pada bandar tomat, sebagai buruh yang dibayar harian Rp50 ribu. Selama bekerja saya melihat keunggulan bidang pertanian yang mampu menghidupi banyak orang. Lantaran itu, saya tertarik untuk menekuni usaha tani,” ujarnya. Gayung bersambut, “Setelah berkeja di orang lain selama 6 bulan, saya disewain lahan oleh istri seluas 160 tumbak (2.240 m2) seharga Rp300 ribu. Uang untuk sewa itu sisa dari upah harian saya yang dikumpulkan istri,” kenangnya. Lahan seluas itu, ia tanami sawi (petsai) dan tomat, masing-masing 6.000 tanaman. Sekitar 50 hari kemudian, sawi siap panen. Karena hasilnya super, sawi ia jual ke Lembang, dan mendapatkan uang Rp18 juta. Sebulan kemudian, tomatnya juga panen. “Dari 6.000 tanaman memperoleh 15 ton (2,5 kg per tanaman), dan jadi uang Rp23 juta,” aku Lilit. “Waktu saya kerja di orang lain, dapat uang hanya Rp50 ribu sehari. Koq, setelah bercocok tanam sendiri malah dapat uangnya besar. Dari situ saya putuskan berhenti bekerja di orang lain,” tukasnya. Dalam 9 tahun pertama, lahan yang dikelola Lilit sudah menjadi 9 hektar. Selama itu pula ia hilir-mudik ke pasar untuk menjual tomat yang ia budidayakan. “Ilmu pertanian pertama yang saya peroleh soal bertani tomat. Oleh karena itu pula saya terus menggeluti usaha tomat,” kilahnya. Kala itu, ia mengaku baru mampu memasok 2—3 ton per hari. “Selama mengirim tomat ke pasar, timbul keinginan untuk menambah bidang usaha dengan jual beli tomat. Sekitar tahun 2001, saya putuskan untuk menggeluti trading tomat, tapi budidaya juga tidak saya tinggalkan,” katanya. Kini, lahan yang digarap Lilit seluas 24 hektare, 5 hektare diantaranya milik pribadi. Karena sibuk sibuk di perdagangan, lahan itu dikelola oleh para karyawannya. “Upah dan sarana produksi saya yang banyar. Kalau ada hasil saya kasih bonus 25% dari keuntungan. Saya harus membayar upah harian mereka karena mereka perlu untuk biaya harian keluarganya. Mereka juga harus diberi bonus dengan harapan mereka bisa hidup layak,” kilahnya. Dan, “Saya tidak menginterpensi petani harus menanam tomat di lahan garapan saya. Saya beri kebebasan mereka. Kalau menurut perhitungan mereka akan menguntungkan tanaman kubis, silakan tanaman kubis,” imbuhnya. “Walapun saya disebut bandar tomat, beli tomat kan tak mesti dari mereka,” ucapnya sembari tertawa. Kebahagiaan Tersendiri Menurut Lilit, bila mau menekuni usaha tani, jangan bicara soal harga jual dulu. Karena siapun tidak tahu. Yang penting tanam dulu, pelihara dengan baik, sehingga produksinya optimal. Harga di pasar tidak bisa diubah sesuai keinginan petani. Tapi kalau tanaman, yang biasanya keluar 1 kg dengan perawatan yang baik bisa menghasilkan 3—4 kg, tentu disesuaikan dengan potensi varietasnya. “Katerangan pada label benih itu sudah tentu hasil riset. Kalau pas ditanaman produksinya tidak sesuai, kesalahannya tentu ada di pembudidaya,” tandas pria kelahiran 1969 itu. Memang dalam usaha tani (budidaya), lanjut dia, dalam setahun didak bisa diprediski untung dan rugi sekian kali. Bisa saja, dalam setahun hanya balik modal. Namun bila mujur, “Sekali untung, bisa untuk hidup selama 2 tahun,” ujarnya. Ia memberi gambaran, “Pernah saya tanam tomat dengan populasi 60.000 dan modalnya Rp240 juta. Hasil jualnya Rp1,5 miliar. Harga tomat di kebun kala itu Rp10.000—Rp11.000 per kg,” paparnya. Menurut Lilit, soal harga jual itu relatif. Tapi, mengelola bidang pertanian itu memiliki kebahagiaan tersendiri. “Kalau ke kebun, saya bisa seharian hanya mengamati tanaman, bukan untuk bekerja. Menyaksikan tanaman subur, daunnya hijau mulus tanpa penyakit, buahnya banyak, sungguh bahagia. Kita juga tidak diatur oleh waktu. Hal itu tidak bisa dinilai dengan uang. Apalagi tanaman bagus, harga jual bagus, banyak calon pembeli yang datang menawar, itu menjadi kepuasan tersendiri,” pungkas H. Lilit Saefundin. (admin/sumber: ihorti)
